Rabu, 11 Januari 2012

Kehidupan di Bus Antar Kota

Sejak TK sampai SMA gua selalu bersekolah di tempat yang gak jauh dari rumah, tapi kali ini saat gua masuk di dunia Perguruan Tinggi gua mau gak mau harus, kudu, dan wajib kuliah di sana, gua kuliah di salah satu Universitas Swasta yang terdapat di daerah Pasar Rebo.

Dulu sebelum gua masuk Universitas tersebut, ada beberapa persyaratan yang harus gua tempuh antara lain test tertulis dan test wawancara,
Waktu gua test tertulis, gua test di daerah Limau I I Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Perkiraan gua, gua bakal kuliah di cabang Universitas Swasta tersebut or Kampus Limau, ternyata jurusan PGSD cuma ada di Pasar Rebo. Apessss(́_̀)


Satu hari setelah test tertulis di Kampus Limau, khusus buat jurusan PGSD wajib melaksanakan test wawancara, dan test wawancara tersebut diadakan di kampus Pasar Rebo. Awalnya gua naik motor kalau ke kampus Pasar Rebo, karena menurut gua lebih cepat,efektif serta efisien naik motor di bandingkan naik bus, tapi lama kelamaan gua ngerasa tubuh gua teposss (pada pegal-pegal). Setelah itu gua memutuskan untuk naik bus antar kota, yang lebih efisien dan nyaman. Selain itu kita bisa lebih nyantai gak perlu macet-macet di jalan, kalau seandainya macet kita bisa tidur. Hahaha(^^)


Bus yang gua gunakan bernama Agra Mas, jalurnya antara lain BSD Tangerang- Veteran, Bintaro- Pasar Rebo, Cikarang dsb. Bus ini lewat Tol dan gak kena macet, Selain itu, bus ini memiliki fasilitas Air Conditioners, TV, dan Pintu Otomatis .
Biasanya gua nunggu itu bus di jalan R.C Veteran, Bintaro. Cause, Bapak gua kerjaannya di daerah R.C  Veteran sekalian deh nebeng .Hahaha(^^)
# Terima kasih Bapak


Gak butuh waktu yang lama tuk mengenal teman-teman baru di kampus, satu minggu adalah waktu yang tepat untuk saling berinteraksi dengan teman-teman, setelah gua memperkenalkan diri gua, dan saling mengenal satu sama lain. Ada salah satu teman wanita di kelas gua yang rumahnya deket dengan gua, tepatnya di daerah Komplek Deplu, depan Universitas Budi Luhur. Dia yang mengajarkan gua hidup lebih mandiri dan hemat.


Selain bus antar kota tersebut ternyata masih banyak bus antar kota lain yang jalurnya berbeda-beda. yang jelas ongkosnya lebih murah, memakai Air Conditioners alami, gak lewat jalan tol, dan satu lagi kita harus sanggup berdesak-desakan. Ini yang gua cari selama ini untuk tahu kehidupan di bus antar kota, gak selamanya kita harus hidup dengan kemewahan, berfoya-foya dengan uang yang di berikan orang tua. Ada kalanya kita belajar tuk berhemat dengan apa yang kita miliki saat ini.
itu adalah pesan dari Mr. Simple yang dahulu sebelum dia success dan memutuskan kuliah di University Islam Negeri Jakarta, dia merasakan apa yang gua rasakan saat ini. betapa susahnya anak kuliahan yang rumahnya jauh. Hahaha(^^)


Saat pertama kali gua harus naik bus antar kota tersebut gua agak pusing, bawaanya pengen muntah, dan panasss banget, beda sama bus Agra Mas. Tapi di sinilah gua menemukan arti sebuah kehidupan para Sopir, Kenek, Para Penumpang yang ramah- ramah. Berbeda saat gua naik Agra Mas, para penumpangnya cenderung lebih individual, kapitalis, gak ramah, dan mementingkan diri sendiri cenderung bersifat liberalisme.


Mulai aja dari Sopir dan Kenek, di bus antar kota ini gua sering ngeliat anak di bawah umur, udah bisa mengendarai bus tersebut. Dia mengaku bahwa kemampuan mengendarai bus tersebut di dapatkannya dari teman-teman mereka yang umurnya di atas mereka.
Dewasa sebelum waktunya inilah potret kehidupan kita zaman sekarang
Gua punya cerita tentang sang sopir dan keneknya.


Sopir bus antar kota tersebut berasal dari kota Medan dan merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib, alhasil dia hanya menjadi sopir bus antar kota. Menurut pengakuannya dia mempunyai banyak saudara di Jakarta, tetapi kalau ada acara Natal dia gak pernah berkumpul dengan saudaranya tersebut. Karena takut di mintain uang sama keponakan-keponakannya.Hmmmm(ʃ́,́ƪ)
Selain itu ada Kenek bus antar kota juga banyak anak yang di bawah umur. Ada kenek bus antar kota yang mengaku orang Padang tapi gak bisa bahasa padang.Hahaha(^^)
Kok bisa? ternyata dia waktu kecil lahir di Kota Padang tetapi waktu umur 3 tahun ayah dan ibunya merantau ke Jakarta, dan bahasa yang dia gunakan dan kuasai adalah bahasa betawi. Mereka yang seharusnya bersekolah, mendapatkan pendidikan malah terjun ke jalanan untuk mencari sesuap nasi. Beruntunglah kita yang tidak seperti mereka, bersyukur dan selalu bersyukur atas apa yang saat ini kita dapatkan,

آمِّيْنَ يَا اَللهُ
Selain cerita  Sopir dan Keneknya, gua punya cerita tentang para penumpang yang ramah- tamah.


Suatu hari gua berangkat ke kampus kalau gak salah tepat hari Rabu, saat Ujian Tengah Semester Matematika. Seperti biasa gua naik bus antar kota, posisi duduk gua tepat di tengah-tengah deretan kursi penumpang, gak gua sadari setelah gua sampai di terminal bus antar kota, tas gua terbuka lebar dan ternyata dompet gua kecopetan. Apessss(́_̀)
rasa panik, tegang, takut telat ke kampus karena ada UTS, jadi satu mana uang itu tinggal segitu-gitunya lagi gak ada uang cadangan buat sampai kampus. untung hp GSM gua ketinggalan di rumah tadi, gua cuma bawa hp CDMA. gua langsung telephone Bapak, untuk jemput gua dan kasih ongkos lagi. sambil nunggu Bapak di depan Hotel Melawai gua bengong kayak orang gila.Hahaha(^^)
Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Itu yang gua rasakan setelah gua kecopetan beberapa hari kemudian  sepulang dari kampus gua biasa nunggu bus antar kota di halte deket kampus gua,setelah mendapatkan bus antar kota, ada Ibu-ibu setengah baya yang duduk di samping gua beliau baru  pulang  menjenguk keponakannya di Rumah Sakit, ibu- ibu itu ngajak ngobrol gua, setelah berbicara panjag lebar. Kenek datang buat minta ongkos bus, eh ibu-ibu itu bayarin ongkos gua. Lumayan ongkos gua buat di tabung. Hasekasekasekƪ˘) ƪ˘)ʃ


Satu minggu berlalu, gua biasa ikut Bapak arisan keluarga, lumayan dapet makan enak gratiss, gak cuma makan enak yang gua rasain setelah ikut arisan keluarga tapi rasa kebersamaan serta kenal dengan sanak saudara itu lebih berarti dari segalanya. Ibu punya sepupu yang tinggalnya di Depok, namanya mas Wiwie saat gua ikut arisan keluarga kmren gua di kasih uang sama mas Wiwie, uang yang di berikannya dua kali lipat dari uang gua yang kecopetan kemaren. Hahaha(^^)
pokoknya gua selalu mengambil hikmah dari kejadian-kejadian yang gua alami, gak selamanya samsara itu selalu dateng ke gua. Kebahagian akan datang apabila kita mau saling berbagi, sekalipun kita berbagi rezeki sama pencopet , 


Siang ini gua ke kampus karena ada mata kuliah ICT yang mengadakan praktek, seperti biasanya gua gunakan bus Antar Kota untuk pergi ke sana. Di bus Antar Kota itu gua mengamati kejadian yang menurut gua aneh tapi nyata, Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang suami yang bertindak menjadi sopir, seorang istri yang menjadi kenek, dan ada anak kecil yang bernama Satrio. Satrio adalah anak kecil berumur tiga tahun, ibunya yang menjadi kenek yang berdiri di depan pintu bus Antar Kota, dan Bapaknya mengemudikan bus tersebut. Karena ibu dan bapaknya sedang bekerja, Satrio di letakkan oleh ibunya di kursi paling depan bus Antar Kota tersebut tepat di sebelah Bapaknya. Satrio yang tidak bisa diam atau bahasa lazimnya pecicilan selalu mencari perhatian ibunya dengan berbagai alasan seperti membuang sedotan minuman yang sedang di minumnya, dan meminta ibunya mengambil sedotan minuman tersebut Setelah itu Satrio menumpahkan air yang ada dalam gelas minuman tersebut dan memanggil ibunya sambil menangis. Karena kesal dengan anakknya Bapaknya Satrio membuang minuman yang sedang di minum Satrio, Satriopun menangis dan terus memanggil ibunya. Setelah itu ibunya Satrio menghampiri Satrio dan menggendongnya, barulah Satrio diam dan tidak menangis lagi, lalu Satrio memeluk dan mencium ibunya. Betapa besarnya peran seorang ibu dalam sebuah keluarga selain mengandung, merawat, mendidik, serta membesarkan seorang anak, Ibu juga turut mencari rezeki untuk kepentingan anak.


Setelah gua pulang dari kampus gua naik bus antar kota lagi, kali ini ada kejadian yang sering gua temukan saat gua berangkat dari terminal bus antar kota,
Dewasa ini, sering terjadi razia besar-besaran di terminal bus antar kota, Ada kejadian yang menggambarkan sosok polisi saat ini di kota Metropolitan, bus antar kota yang gua tumpangi ternyata....


gua sering menemukan kejadian polisi UUD (ujung-ujungnya duit), padahal sopir bus yang gua tumpangi itu udah ngasih semua surat keterangan berkendaraan, ex: SIM, STNK, dan lain-lain. ternyata masih kurang semua itu. dan akhirnya kenek bus tersebut ngasih uang, dan uang yang di berikannya hanya 5000 rupiah, hari gini masih banyak polisi yang KKN padahal gua sering ngeliat di depan museum polisi ada slogan anti KKN apaan tuh? cuma slogan dan gak di terapkan. polisi yang elite dikit apa, masa di tilang ngasih 5000 di terima tanpa alasan apapun.. Apakah ini budaya polisi indonesia saat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar